Rabu, 19 agustus 2026-4A- matematika & pend. Pancasila
Selamat pagi,,,,
IDENTITAS DIRI;
A. Nama : GERY PERDHO HIPSON S.Pd
B. Mapel : matematika & pend.pancasila
C. Hari/Tanggal : rabu, 19 Agustus 2026
D. Kelas : IV.A
E.
Selamat pagi,,,,Tabik pun
Assalamualaikum.wr.wb anak sholeh/sholeha IV.A apa kabar hari ini?Alhamdulillah semoga kita semua selalu sehat dan selalu dalam lindungan Allah SWT.aamiin ya Robbal allamin. Jangan lupa sebelum belajar dengarkan tausiah dan rangkum isinya kemudian tadarus dan shalat dhuha.
- stik es krim
- kancing
- tutup botol
- pensil
- balok atau kubus kecil
Matematika
A. Materi Ajar
1. Perkalian Bilangan Cacah
Perkalian adalah penjumlahan berulang dengan bilangan yang sama.
Contoh:
Ada 4 piring. Setiap piring berisi 3 apel.
🍎🍎🍎 | 🍎🍎🍎 | 🍎🍎🍎 | 🍎🍎🍎
Jadi:
3 + 3 + 3 + 3 = 12
Ditulis:
4 × 3 = 12
Artinya, ada 4 kelompok, masing-masing berisi 3 benda.
2. Perkalian dengan Benda Konkret
Guru dapat menggunakan:
Contoh:
3 × 5
Buat 3 kelompok, masing-masing terdiri dari 5 benda:
🔵🔵🔵🔵🔵
🔵🔵🔵🔵🔵
🔵🔵🔵🔵🔵
Jumlah seluruh benda = 15
Jadi:
3 × 5 = 15
3. Perkalian dengan Gambar
Contoh:
⭐ ⭐ ⭐ ⭐
⭐ ⭐ ⭐ ⭐
⭐ ⭐ ⭐ ⭐
Ada 3 kelompok. Setiap kelompok berisi 4 bintang.
3 × 4 = 12
4. Perkalian dengan Simbol
Setelah memahami benda dan gambar, siswa belajar menggunakan simbol angka.
Contoh:
6 × 4 = ...
Artinya:
4 + 4 + 4 + 4 + 4 + 4 = 24
Jadi:
6 × 4 = 2 Menyelesaikan Masalah Sehari-hari
Contoh 1 – Perkalian
Ibu membeli 5 kantong jeruk. Setiap kantong berisi 6 jeruk. Berapa jumlah seluruh jeruk?
Diketahui:
5 kantong
Setiap kantong = 6 jeruk
Penyelesaian:
5 × 6 = 30
Jawaban: 30 jeruk.
Contoh 2 – Pembagian
Pak Budi memiliki 24 pensil. Pensil tersebut dibagikan sama rata kepada 6 siswa.
Berapa pensil yang diterima setiap siswa?
Penyelesaian:
24 ÷ 6 = 4
Jawaban: setiap siswa mendapat 4 pensil.
Pancasila
Mengidentifikasi makna sila-sila Pancasila, dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari; mengenal karakter para perumus Pancasila; menunjukkan sikap bangga menjadi anak Indonesia yang memiliki bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan di lingkungan sekitar.
TUJUAN PEMBELAJARAN:
Peserta didik mampu mengidentifikasi karakter positif tokoh perumus Pancasila dengan baik.
Proses perumusan Pancasila sebagai dasar negara Indonesia berlangsung dalam sidang BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) dan disempurnakan oleh Panitia Sembilan. Tokoh-tokoh seperti Mr. Mohammad Yamin, Prof. Dr. Mr. Soepomo, Ir. Soekarno, Drs. Mohammad Hatta, serta KH. Wahid Hasjim memberikan kontribusi besar dalam perumusan ini.
Meskipun memiliki latar belakang agama, budaya, dan pandangan politik yang berbeda, mereka mampu bersatu karena memiliki karakter-karakter positif berikut:
1. Cinta Tanah Air dan Patriotisme
Para tokoh perumus Pancasila menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi maupun golongan. Mereka rela mengorbankan waktu, tenaga, bahkan keselamatan jiwa demi tercapainya kemerdekaan Indonesia.
2. Mengutamakan Persatuan dan Kesatuan
Para tokoh sangat menyadari bahwa Indonesia terdiri dari berbagai suku, agama, dan budaya. Karakter ini sangat terlihat ketika para tokoh pendiri bangsa menyepakati perubahan kalimat pada Piagam Jakarta demi menjaga keutuhan seluruh rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke.
3. Musyawarah dan Toleransi (Menghargai Perbedaan)
Dalam sidang-sidang BPUPKI maupun PPKI, setiap tokoh menyampaikan pendapatnya secara terbuka. Mereka mendengarkan pandangan orang lain dengan tenang, tidak memaksakan kehendak, dan menghargai setiap perbedaan pendapat.
4. Kerja Keras dan Pantang Menyerah
Merumuskan dasar negara di tengah situasi penjajahan membutuhkan ketahanan mental dan fisik yang luar biasa. Para tokoh bekerja keras, belajar, dan berdiskusi tanpa kenal lelah demi melahirkan Pancasila.
5. Berjiwa Besar dan Rendah Hati
Para perumus Pancasila memiliki sifat sportif dan berjiwa besar. Ketika ide atau gagasan pribadi tidak terpilih menjadi rumusan akhir, mereka tetap menerima keputusan bersama dengan lapang dada dan mendukungnya secara penuh.
📌 Kesimpulan Materi
Kesimpulan:
Lahirnya Pancasila bukan hanya hasil dari kejeniusan pemikiran, tetapi juga buah dari karakter positif para perumus Pancasila. Karakter utama seperti cinta tanah air, mengutamakan persatuan, toleransi dalam bermusyawarah, kerja keras, dan berjiwa besar merupakan pondasi utama terwujudnya Indonesia yang merdeka dan bersatu.
Sebagai generasi penerus, kita dapat meneladani karakter-karakter ini melalui tindakan nyata di sekolah maupun di rumah, seperti menghargai pendapat teman, tidak membeda-bedakan suku/agama, rajin belajar, serta menerima hasil musyawarah dengan lapang dada.
Kesimpulan:
Lahirnya Pancasila bukan hanya hasil dari kejeniusan pemikiran, tetapi juga buah dari karakter positif para perumus Pancasila. Karakter utama seperti cinta tanah air, mengutamakan persatuan, toleransi dalam bermusyawarah, kerja keras, dan berjiwa besar merupakan pondasi utama terwujudnya Indonesia yang merdeka dan bersatu.
Sebagai generasi penerus, kita dapat meneladani karakter-karakter ini melalui tindakan nyata di sekolah maupun di rumah, seperti menghargai pendapat teman, tidak membeda-bedakan suku/agama, rajin belajar, serta menerima hasil musyawarah dengan lapang dada.
Latihan Soal Isian Singkat (10 Soal)
Petunjuk: Isilah titik-titik di bawah ini dengan jawaban yang tepat dan singkat!
Badan yang bertugas menyelidiki usaha-usaha persiapan kemerdekaan Indonesia dan menjadi tempat awal perumusan Pancasila adalah ....
Tiga tokoh utama yang menyampaikan gagasan dasar negara dalam sidang pertama BPUPKI adalah Mr. Mohammad Yamin, Prof. Dr. Mr. Soepomo, dan ....
Sikap menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi atau golongan dinamakan ....
Perubahan kalimat pada sila pertama Piagam Jakarta dilakukan oleh para tokoh bangsa demi menjaga ....
Mengaku kalah dengan lapang dada dan tidak memaksakan kehendak saat pendapat tidak diterima menunjukkan sikap berjiwa ....
Tokoh perumus Pancasila yang dikenal sangat gemar membaca buku, jujur, dan bersahaja serta menjadi Wakil Presiden Indonesia pertama adalah ....
Sikap saling menghargai dan menghormati perbedaan agama, suku, maupun pendapat antar sesama disebut ....
Cara pengambilan keputusan bersama yang dicontohkan oleh para perumus Pancasila melalui pembicaraan bersama untuk mencapai kesepakatan disebut ....
Menjaga kebersihan kelas bersama tanpa membeda-bedakan teman merupakan salah satu contoh penerapan karakter perumus Pancasila di lingkungan ....
Sifat tidak mudah putus asa dan bersungguh-sungguh dalam menghadapi kesulitan yang ditunjukkan oleh para pendiri bangsa adalah karakter kerja keras dan ....
🔑 Kunci Jawaban & Pembahasan
BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia)
Pembahasan: BPUPKI adalah lembaga yang dibentuk untuk mempersiapkan dasar negara dan rancangan UUD.
Ir. Soekarno
Pembahasan: Tiga pembicara utama dasar negara adalah Mr. Mohammad Yamin, Prof. Dr. Mr. Soepomo, dan Ir. Soekarno.
Cinta tanah air / Patriotisme
Pembahasan: Sikap mendahulukan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi adalah bentuk nyata cinta tanah air.
Persatuan dan kesatuan bangsa (NKRI)
Pembahasan: Perubahan dilakukan agar tidak ada kelompok atau wilayah di Indonesia yang merasa dianalogikan secara berbeda.
Besar
Pembahasan: Berjiwa besar berarti mau menerima keputusan bersama walaupun berbeda dengan keinginan pribadi.
Drs. Mohammad Hatta (Bung Hatta)
Pembahasan: Bung Hatta dikenal sebagai sosok yang sangat disiplin, gemar membaca, jujur, dan sederhana.
Toleransi
Pembahasan: Toleransi adalah tenggang rasa dan penghargaan terhadap perbedaan.
Musyawarah (Musyawarah untuk mufakat)
Pembahasan: Musyawarah merupakan tradisi berdemokrasi bangsa Indonesia dalam meng ambil keputusan bersama.
Sekolah
Pembahasan: Melaksanakan piket/kerja bakti kelas bersama teman adalah wujud pengamalan di sekolah.
Pantang menyerah
Pembahasan: Karakter pantang menyerah membuat para pahlawan tidak berhenti berjuang meski menghadapi rintangan berat.
1. Refleksi Pembelajaran
BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia)
Pembahasan: BPUPKI adalah lembaga yang dibentuk untuk mempersiapkan dasar negara dan rancangan UUD.
Ir. Soekarno
Pembahasan: Tiga pembicara utama dasar negara adalah Mr. Mohammad Yamin, Prof. Dr. Mr. Soepomo, dan Ir. Soekarno.
Cinta tanah air / Patriotisme
Pembahasan: Sikap mendahulukan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi adalah bentuk nyata cinta tanah air.
Persatuan dan kesatuan bangsa (NKRI)
Pembahasan: Perubahan dilakukan agar tidak ada kelompok atau wilayah di Indonesia yang merasa dianalogikan secara berbeda.
Besar
Pembahasan: Berjiwa besar berarti mau menerima keputusan bersama walaupun berbeda dengan keinginan pribadi.
Drs. Mohammad Hatta (Bung Hatta)
Pembahasan: Bung Hatta dikenal sebagai sosok yang sangat disiplin, gemar membaca, jujur, dan sederhana.
Toleransi
Pembahasan: Toleransi adalah tenggang rasa dan penghargaan terhadap perbedaan.
Musyawarah (Musyawarah untuk mufakat)
Pembahasan: Musyawarah merupakan tradisi berdemokrasi bangsa Indonesia dalam meng ambil keputusan bersama.
Sekolah
Pembahasan: Melaksanakan piket/kerja bakti kelas bersama teman adalah wujud pengamalan di sekolah.
Pantang menyerah
Pembahasan: Karakter pantang menyerah membuat para pahlawan tidak berhenti berjuang meski menghadapi rintangan berat.
Pendekatan Holistik dan Karakter:
Pembelajaran diawali dengan pembiasaan karakter religius dan kedisiplinan (pagi hari mendengarkan tausiah, merangkum, tadarus, dan shalat dhuha). Hal ini menunjukkan integrasi antara pendidikan moral/keagamaan dengan materi akademik.
Penggunaan Metode Berjenjang pada Matematika:
Penyampaian materi matematika (Perkalian & Pembagian) menggunakan alur pembelajaran yang bertahap (konkret $\rightarrow$ gambar $\rightarrow$ simbol). Pendekatan Problem Based Learning (PBL) dan penggunaan media nyata (stik es krim, kancing, dll.) sangat tepat untuk anak usia sekolah dasar (Kelas IV) agar konsep perkalian sebagai penjumlahan berulang dapat dipahami secara intuitif, bukan sekadar hafalan.
Penanaman Nilai Kebangsaan melalui Pendidikan Pancasila:
Materi Pendidikan Pancasila difokuskan pada pengenalan tokoh perumus Pancasila (Ir. Soekarno, Moh. Hatta, Mr. Soepomo, Moh. Yamin, KH. Wahid Hasjim). Refleksi dari materi ini adalah pentingnya menanamkan sikap patriotisme, kebersamaan, toleransi, dan jiwa besar sejak dini melalui teladan nyata para pendiri bangsa yang lebih mengutamakan persatuan di atas kepentingan pribadi/golongan.
Pendekatan Holistik dan Karakter:
Pembelajaran diawali dengan pembiasaan karakter religius dan kedisiplinan (pagi hari mendengarkan tausiah, merangkum, tadarus, dan shalat dhuha). Hal ini menunjukkan integrasi antara pendidikan moral/keagamaan dengan materi akademik.
Penggunaan Metode Berjenjang pada Matematika:
Penyampaian materi matematika (Perkalian & Pembagian) menggunakan alur pembelajaran yang bertahap (konkret $\rightarrow$ gambar $\rightarrow$ simbol). Pendekatan Problem Based Learning (PBL) dan penggunaan media nyata (stik es krim, kancing, dll.) sangat tepat untuk anak usia sekolah dasar (Kelas IV) agar konsep perkalian sebagai penjumlahan berulang dapat dipahami secara intuitif, bukan sekadar hafalan.
Penanaman Nilai Kebangsaan melalui Pendidikan Pancasila:
Materi Pendidikan Pancasila difokuskan pada pengenalan tokoh perumus Pancasila (Ir. Soekarno, Moh. Hatta, Mr. Soepomo, Moh. Yamin, KH. Wahid Hasjim). Refleksi dari materi ini adalah pentingnya menanamkan sikap patriotisme, kebersamaan, toleransi, dan jiwa besar sejak dini melalui teladan nyata para pendiri bangsa yang lebih mengutamakan persatuan di atas kepentingan pribadi/golongan.
2. Kesimpulan
Matematika (Perkalian & Pembagian Bilangan Cacah sampai 100):
Perkalian didefinisikan dasar sebagai konsep penjumlahan berulang dengan bilangan yang sama (a x b). Pembelajaran dibantu dengan benda konkret (stik, kancing), media visual (gambar), hingga penyelesaian soal cerita kehidupan sehari-hari (aplikatif).
Pembagian diperkenalkan sebagai penyelesaian masalah pembagian sama rata dalam situasi kontekstual.
Pendidikan Pancasila (Karakter Perumus Pancasila):
Proses perumusan dasar negara dalam sidang BPUPKI/PPKI berhasil melahirkan Pancasila berkat karakter utama para perumus, yaitu: Cinta Tanah Air/Patriotisme, Mengutamakan Persatuan, Toleransi & Musyawarah, Kerja Keras/Pantang Menyerah, serta Berjiwa Besar/Rendah Hati.
Nilai-nilai perumus Pancasila dirancang untuk dapat langsung diaplikasikan oleh peserta didik dalam kehidupan sehari-hari (seperti menghargai perbedaan pendapat, tidak membeda-bedakan teman, dan menerima hasil musyawarah secara lapang dada).
Matematika (Perkalian & Pembagian Bilangan Cacah sampai 100):
Perkalian didefinisikan dasar sebagai konsep penjumlahan berulang dengan bilangan yang sama (a x b). Pembelajaran dibantu dengan benda konkret (stik, kancing), media visual (gambar), hingga penyelesaian soal cerita kehidupan sehari-hari (aplikatif).
Pembagian diperkenalkan sebagai penyelesaian masalah pembagian sama rata dalam situasi kontekstual.
Pendidikan Pancasila (Karakter Perumus Pancasila):
Proses perumusan dasar negara dalam sidang BPUPKI/PPKI berhasil melahirkan Pancasila berkat karakter utama para perumus, yaitu: Cinta Tanah Air/Patriotisme, Mengutamakan Persatuan, Toleransi & Musyawarah, Kerja Keras/Pantang Menyerah, serta Berjiwa Besar/Rendah Hati.
Nilai-nilai perumus Pancasila dirancang untuk dapat langsung diaplikasikan oleh peserta didik dalam kehidupan sehari-hari (seperti menghargai perbedaan pendapat, tidak membeda-bedakan teman, dan menerima hasil musyawarah secara lapang dada).

Komentar
Posting Komentar